Minggu, 24 Juni 2012

Film Rumah Tanpa Jendela (2011)

 taken from ImanSulaiman.com

RTJ01
Merindukan kehadiran film untuk anak-anak?
Kangen dengan film musikal?
Ingin menonton film bertema sosial namun ringan dan menyenangkan?
Penasaran dengan film tentang anak special need yang begitu menyentuh tanpa menggurui?
Nonton film sambil berderma? Kok bisa?
Aneka pertanyaan di atas ternyata mampu dijawab oleh kehadiran sebuah film yang berjudul Rumah Tanpa Jendela. Bersyukur saya dan teman-teman MataSinema diberi kesempatan untuk hadir dalam pemutaran perdana film ini Kamis lalu (03/02/2011) di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) Rasuna Said, Jakarta Selatan. Thanks to Mbak Asma Nadia yang begitu welcome kepada kami. Nggak cuma Mbak Asma Nadia, ternyata Mas Aditya Gumay selaku sutradara sekaligus penulis skenario dan Mas Adenin Adlan (produser dan penulis skenario) juga begitu ramah dan berkenan ngobrol-ngobrol dengan kami. Oh ya nggak lupa ada Mbak Genta Windi. Mbak yang satu ini sejak semula aktif ngetwit dengan kami. Dia ini juga nggak kalah ramah lho. Semua kru dan personal film ini begitu hangat dan bersahabat (cozy) .

Film ini berdurasi 100 menit, terasa pas untuk sebuah tontonan keluarga karena nggak terlalu lama dan juga tidak terlalu sebentar. Hari itu dilakukan 2 kali pemutara film dan Alhamdulillah kami kebagian menonton pada penayangan perdana pada sekitar pukul 13.00 WIB.

Hampir seluruh pendukung film ini hadir, seperti Dwi Tasya, Emir Mahira, Raffi Ahmad, Yuni Shara, Atie Kanser, Varissa Camelia, Billy Davidson, Ouzan Ruz dan Indra Bekti. Acara hari itu diakhiri denga press conference, karenanya tidak heran begitu banyak wartawan yang hadir.
Komentar positif pun bermunculan dari kalangan wartawan. Memang patut diakui film ini sangat berbeda. Selain seluruh keuntungan film ini didedikasikan bagi penderita autis kurang mampu di tanah air, film ini juga sarat dengan nilai-nilai positif dengan kemasan yang sangat menghibur.

CERITA

Alam pikir seorang anak terkadang sulit kita pahami karena kesederhanaannya. Rara (Dwi Tasya) adalah seorang anak yang kurang beruntung secara ekonomi dan ia memiliki sebuah cita-cita yang amat sangat sederhana yaitu memiliki jendela di rumahnya. Sederhana banget ya (thinking) .

Namun keinginan sederhana ini menjadi terlalu mewah bagi Rara karena dia, ayah (Raffi Ahmad), dan neneknya (Ingrid Wijanarko) hanyalah tinggal dalam sebuah rumah berdinding kayu yang cukup untuk tidur saja. Itu pun masih disertai dengan ancaman penggusuran yang bisa terjadi setiap saat.
Di lain pihak ada Aldo (Emir Mahira) seorang anak yang termasuk special needs karena mengidap autis ringan. Aldo hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan bahkan terbilang berlebih. Karena kondisinya yang memang khususl ini Aldo kerap kali dianggap sebagai hal yang patut disembunyikan memalukan oleh keluarganya, terutama kakak perempuannya (Maudy Ayunda).
Aldo dan Rara pun dipertemukan dalam sebuah kejadian yang membuat keduanya akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan yang tak mengenal kasta ekonomi ini berlangsung dengan begitu indahnya. Rara merasa begitu beruntung dapat melihat rumah indah berjendela banyak milik Aldo, demikian juga dengan Aldo yang merasa akhirnya ia bisa diterima apa adanya oleh Rara dan teman-temannya. Banyak pelajaran dan nilai yang dapat kita tangkap dalam penggambaran persahabatan keduanya tanpa terasa dipaksakan karena mengalir dalam cerita yang begitu natural dan nyaman dinikmati (scenic) .
Beberapa adegan mengharukan dapat kita jumpai di film ini. Walaupun pemain tidak melulu berurai airmata dalam adegan-adegannya namun saya sebagai penonton beberapa kali harus mengambil tissue untuk mengeringkan mata yang tiba-tiba basah (tears) .
Sebagai film musikal tentu saja banyak keceriaan yang dihadirkan dalam film ini melalui kehadiran lagu-lagu. Ini pun ditampilkan dengan apik dan cukup menarik (banana_cool) .

PEMAIN

Sejak awal kehadiran Emir Mahira dalam film ini begitu memukau saya. Dia begitu ciamik memerankan tokoh Aldo yang menderita autis. Gerak tubuh hingga gaya bicaranya begitu natural dan menyentuh. Emir tampak benar-benar mempersiapkan diri memerankan ini secara matang. Salut untuk Emir, moga menjadi bintang di masa depan ya (rock) .
Tokoh Rara yang menjadi benang merah cerita film ini juga diperankan secara apik oleh Dwi Tasya. Terlihat Tasya sangat memahami dan mendalami karakter Rara dengan sangat baik dan natural. Ini luar biasa bagi seorang anak pendatang baru di dunia film.
Maudy Ayunda dan Ouzan Ruz yang berperan sebagai kakak dan abang Aldo juga cukup baik dalam membawakan peran mereka. Nah nggak lupa salah satu tokoh senior perfilman Indonesia kita yaitu Atie Kanser juga main lho di sini. Berperan sebagai nenek Aldo beliau mampu membuat film ini begitu hidup dan enak dinikmat. Bunda Atie begitu sukses menunjukkan diri sebagai nenek yang begitu pengasih kepada cucunya, sekalipun Aldo memiliki kekurangan (worship) .
Yang membuat film ini cukup heboh sebenarnya adalah kehadiran pasangan Raffi Ahmad dan Yuni Shara. Awalnya terus terang saya pribadi sudah under estimate terhadap kehadiran 2 pemain ini. Namun syukurlah keduanya mampu tampil dalam film ini dengan cukup baik. Raffi cukup memikat dalam memerankan ayah Rara, walaupun secara penampilan ia sebenarnya kurang pas menjadi sosok miskin yang berprofesi sebagai penjual ikan hias, namun Raffi membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh mampu menghadirkan sang ayah dengan baik dalam film ini. Yuni yang hanya tampil dalam beberapa scene juga tidak terlalu mengecewakan, bahkan terbilang cukup baik memerankan diri sebagai bude (tante) Rara.
Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda asuhan mas Aditya Gumay sangat memperkuat nafas film ini. Tak dipungkiri mereka mampu menghidupkan atmosfer alami dalam film ini.

MUSIKALITAS
Sebagai film musikal Aditya Gumay tidak main-main dalam mempersiapkan film ini. Sederetan lagu ia siapkan untuk menghidupkan adegan-adegan dalam film ini. Lagu yang ditampilkan pun nyaman untuk dinikmati sekali pun baru pertama kali mendengar.
Namun sederetan lagu yang tampil kebanyakan dinyanyikan secara bersama. Coba jika ada lead vocalnya, pasti akan lebih menarik lagi hehehe. Teringat Sherina dalam Petualangan Sherinanya (goodluck)

GAMBAR

Tata gambar cukup nyaman dan enak untuk dinikmati. Namun masih ada beberapa sudut pengambilan gambar yang terasa kurang pas, semisal pada adegan bernyanyi ketika hujan, alangkah indahnya jika gambar lebih banyak diambil dari atas yang menunjukkan indahnya warna-warni payung.
Beberapa adegan indoor kesan sinetronnya masih ada. Hmm saya bingung mau ngomongnya tapi mungkin perlu sedikit kreatifitas sudut pengambilan gambar atau tata cahaya sehingga kesan sinetron tersebut bisa diminimalisir (goodluck) .

NONTON SAMBIL SEDEKAH?
Film ini memang terbilang unik karena ternyata tidak memiliki tujuan komersil. Sepenuhnya (100%) penghasilan film ini didedikasikan untuk membantu anak-anak autis (specil needs) yang kurang mampu. Direktur utama Dompet Dhuafa sepenuhnya mendukung film ini antara lain dalam hal promosi.
Walaupun bertujuan sosial jangan pernah meragukan kualitas film ini. Anda bisa saksikan sendiri film ini yang digarap secara begitu piawai oleh sutradara idealis bertangan dingin Aditya Gumay. Setidaknya kita tentu masih ingat dengan Film Emak Ingin Naik Haji garapan sutradara yang sama dan berhasil menyabet banyak penghargaan dalam festival film Bandung dan Festival Film Indonesia.
Lebih detail mengenai ini dapat dilihat di http://proposalfilmrtj.blogspot.com

DUET IDEALIS ASMA NADIA-ADITYA GUMAY

Film ini merupakan kali kedua kerjasama antara Asma Nadia dan Aditya Gumay. Sebelumnya Film Emak Ingin Naik Haji pun sedemikian memukau para pecinta film di tanah air. Tema sederhana dan sangat dekat  dengan keseharian kita merupakan salah satu keunggulan duet ini. Ketika kita menikmati karya mereka berdua seakan memang ada kita di sana, di antara para pemain dan hiruk pikuk cerita dalam film mereka. Inilah yang mungkin acapkali dilupakan sineas kita yang lain.
“Begitu banyak sutradara yang mampu untuk membuat film yang bagus, tapi hanya sedikit yang mampu membuat film bernilai. Dan diantara yang sedikit itu adalah Aditya Gumay”. Ujar Mba Asma Nadia yang begitu terkesan akan idealisme seorang Aditya Gumay.
“Film dan novel adalah dua hal yang berbeda. Dan Aditya Gumay mampu membawa ‘semangat’ yang ada dalam novel ke dalam sebuah film dengan begitu baik. Saya merasa sangat puas dengan hasil filmnya”. Mba Asma menambahkan.

STRONGLY RECOMMENDED TO WATCH
Jangan pernah takut dan berhenti bermimpi. Bukalah mata hati dan pikiranmu sebagaimana jendela yang terbuka. Bersyukur atas segala yang kita miliki. Persahabatan mampu melampaui batas-batas ekonomi dan bahkan cacat atau tidaknya seseorang. Itulah antara lain sedikit dari begitu banyak nilai-nilai yang tersaji dalam ramuan Film Rumah Tanpa jendela ini. Banyak bekal yang bisa dibawa pulang memenuhi rongga nurani kita yang cenderung kering akan kepedulian sosial.
Film ini begitu indah dan bermakna untuk kita lewatkan begitu saja. Saya meyakini dibalik niat mulia dalam pembuatan ini yang ditujukan untuk kegiatan sosial ada begitu banyak berkah yang akan terus mengalir khususnya bagi dunia perfilman Indonesia yang sangat haus akan nilai-nilai kebaikan. Semoga…

Jumat, 15 Juni 2012

10 Kota Paling Layak Huni di Dunia Tahun 2010

Akhirnya keluar juga hasil dari survey kota layak huni secara global oleh beberapa instansi seperti: Huffington Post dan the national ledger. kota layak huni ini didasarkan pada 5 kriteria penilaian baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 5 kriteria penilaian meliputi 1. ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat ( bangunan layak huni dan layak pakai, ketersediaan air bersih, listrik,dll) 2. ketersediaan fasilitas publik (taman, trotoar, rumah ibadah, dll) 3. ketersedian fasilitas pendukung sektor ekonomi, sosial, politik, dan budaya 4. ketersediaan ruang dan tempat berinteraksi dan berkembang 5. kenyamanan, keamanan, keindahan fisik, serta kemajuan pembangunan serta teknologi yang ramah lingkungan

1. Vancouver
2. Vienna
3. Melbourne
4. Toronto
5. Calgary
6. Helsinki
7. Sydney
8. Perth
9. Adelaide
10. Auckland

Selasa, 12 Juni 2012

5 Tahun Berturut-turut Vancouver Sandang Kota Ternyaman di Dunia


Status Vancouver, Kanada, sebagai kota ternyaman di dunia tidak tergoyahkan. Selama lima tahun berturut-turut, Vancouver menempati urutan teratas kota paling layak dihuni berdasarkan survei tahunan Economist Intelligence Unit.

Dalam survei yang dirilis Senin 21 Februari tersebut juga dijelaskan bahwa Harare, ibu kota negara Zimbabwe, merupakan kota terburuk. Kanada tidak hanya menempatkan Vancouver dalam daftar 10 kota ternyaman di dunia.Toronto dan Calgary pun membuntuti di peringkat keempat dan kelima.

Kota-kota ini memenuhi lima kategori secara luas, yakni stabilitas, perawatan kesehatan,budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Setiap faktor dinilai dengan peringkat diterima, lumayan, tidak nyaman, tidak diinginkan, atau tidak bisa ditoleransi. Vancouver mendapatkan nilai total 98 dari nilai 100 dalam survei ini.

“Vancouver tetap berada di puncak. Posisi ini kian kokoh berkat keberhasilan menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin 2010 dan Paralympics yang memberikan dorongan untuk infrastruktur, budaya, dan lingkungan,” ujar penulis survei dalam ringkasan laporan.

“Hanya kejahatan kecil yang menghadirkan kesulitan untuk Vancouver.Kekerasan dilaporkan menjadi tren teratas di kota ini, tetapi angka harus tetap diletakkan pada konteks penilaian,” tambah laporan tersebut.

Editor majalah The Economist Jon Copestake menambahkan, ”Kota yang tidak terlalu besar di negara maju, dengan jumlah penduduk lebih sedikit, mendapat skor yang lebih tinggi.” Menurut dia,kota yang didiami 583.296 jiwa ini dilengkapi layanan infrastruktur yang bagus, tingkat kejahatan yang rendah, tanpa macet, dan lebih berbudaya.

Survei memperlihatkan tingkat pembunuhan di Vancouver pada 2009 adalah 2,6 per 100.000 orang.Angka ini sebenarnya lebih tinggi dibandingkan dari rata-rata Kanada yang 1,8 per 100.000,tetapi lebih kecil dari rata-rata 5,4 pembunuhan di Amerika Serikat (AS). Profesor dari University of British Columbia,Kanada,Patrick Condon tidak terkejut mengetahui tiga kota di Kanada masuk dalam daftar 10 kota ternyaman.“Saya menilai faktor perawatan kesehatan memberikan pengaruh yang besar (dalam penilaian),”ujar Condon. Posisi Vancouver tidak berubah sejak 2007.Kota lain yang baru masuk dalam 10 besar kota ternyaman adalah Auckland,Selandia Baru.

Kota-kota di AS tak tercatat dalam 20 besar.Pittsburgh yang dinilai paling nyaman di AS hanya menempati posisi ke-29,sementara Los Angeles di urutan ke-44. London naik peringkat dengan menghuni posisi ke-53, sedangkan Paris berada di urutan ke-16. Untuk Asia, kota ternyaman adalah Osaka, Jepang, yang menduduki peringkat ke-12 diikuti Tokyo di posisi ke-18. Hong Kong dan Beijing,China,masing-masing berada di posisi ke-31 dan ke-72. Survei ini menilai Harare sebagai tempat paling tidak layak dihuni dengan peringkat 37,5%.Harare menggeser Dhaka, ibu kota Bangladesh, yang sebelumnya menempati posisi tersebut.

Economist Intelligence Unit melakukan survei berdasarkan 30 faktor, antara lain kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan keamanan pribadi. Negara-negara Afrika dan Asia berada di daftar terbawah dari peringkat survei.

Sabtu, 09 Juni 2012


Belajar di Kanada

 

Sistem pendidikan Kanada mencakup baik sekolah yang dibiayai oleh negara maupun sekolah swasta, mulai dari taman kanak-kanak sampai pra-universitas, Pendidikan adalah tanggung jawab provinsi dibawah undang-undang Kanada, yang berarti ada perbedaan nyata dalam sistem-sistem pendidikan di Provinsi yang berlainan, Tetapi tarafnya diseluruh negara secara keseluruhan tinggi.

Warga negara Kanada sangat mementingkan pendidikan dan menuntut adanya sekolah-sekolah berkualitas nomor satu. Gelar dari universitas Kanada diakui di seluruh dunia dan sebagai hasilnya mahasiswa asing yang lulus dari universitas-universitas Kanada bisa mendapatkan karir-karir sukses dan mapan.
Terpilih sebagai negara nomor satu di dunia
Menurut PBB dan Unit Inteligen Ekonomi (Economist Intelligence Unit), Kanada dinyatakan sebagai salah satu dari 10 tempat terbaik di dunia untuk tinggal sejak tahun 1994. Menurut survey PBB, Kanada secara khusus mendapatkan nilai tinggi untuk akses pendidikan, harapan hidup yang lebih tinggi (karena sistem Universal Health Care); dan tingkat kejahatan dan kekerasan yang rendah. Sebagai tambahan, kota-kota terbesar Kanada seperti Vancouver, Toronto dan Montreal telah diakui sebagai kota-kota kelas dunia untuk hidup dan bekerja, kebersihan dan keamanan dan untuk aktivitas-aktivitas budaya dan gaya hidupnya yang menarik.

Biaya Pendidikan Kanada Sangat Kompetitif
Belajar di kanada tidaklah gratis, tetapi terjangkau. Biaya rata-rata untuk mahasiswa asing untuk satu tahun ajaran (8 bulan) dalam Program Seni dan Sains adalah C$4000. Tetapi, berbeda-beda dari institusi satu ke yang lainnya.



Tempat yang aman untuk belajar
Kanada terkenal dengan masyarakat yang aman, adil dan damai. Tingkat kejahatan di Kanada terus menurun secara stabil sejak tahun 1990. Pada tahun 1997, laporan polisi tentang tingkat kejahatan di Kanada menurun 5 persen selama tahun keenam secara berturut-turut. Kejahatan dengan kekerasan turun untuk tahun kelima secara berturut-turut pada tahun 1997 dan tingkat pembunuhan di Kanada sekarang terhitung kurang dari satu persen dari seluruh insiden kekerasan yang dilaporkan. Tidak seperti Amerika Serikat, tetangga Kanada di selatan, senjata api di kontrol dengan ketat dan umumnya tidak diperbolehkan di Kanada.

Mutu Pendidikan yang Tinggi
Institusi pendidikan di Kanada tidak diberi rangking resmi, karena semua institusi pendidikan di Kanada menawarkan program dengan kualitas tinggi. Ketika anda memilih sekolah di Kanada, pertimbangkan tipe, besarnya, dan lokasi institusi tersebut. Jika anda tertarik pada bidang studi khusus, carilah informasi mengenai sekolah mana yang lebih banyak menawarkan disiplin ilmu tersebut

Bagaimana cara kita bisa memiliki peluang ke Kanada?
Dengan adanya CESI (Canadian Education Services International). CESI adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh CEOL, sebuah perusahaan di Provinsi Ontario, Kanada. Dengan kantor pusat perusahaan yang baru dibuka di Jakarta, CESI bermaksud untuk agresif memperkenalkan yang terbaik dari Kanada dalam hal pendidikan, program lembaga dan kurikulum sebagai pilihan utama bagi warga Indonesia mencari peluang dalam studi yang lebih tinggi.

CEO Ltd. dan CESI bertujuan untuk menjembatani kebutuhan dan peluang antara Kanada dan Indonesia dalam bidang pendidikan. Mencakup akademi / universitas pencarian dan pelayanan penempatan bagi warga Indonesia yang ingin mengejar pendidikan menengah serta program pasca sarjana di Kanada. Kami juga membawa kurikulum yang digunakan di Kanada dan materi pelatihan untuk institusi lokal, baik di sektor swasta ataupun pemerintah.