Sabtu, 14 Juli 2012


10 Artis Cilik Pemeran Utama Terbaik Dalam Film Hollywood

Dalam dunia perfilman kadang kita menemui aktor atau aktris yang berperan sangat baik ketika memerankan seorang tokoh dalam suatu film apalagi film film Hollywood. Banyak sekali aktor atau aktris Hollywood yang tentunya selalu total dalam berakting. Lalu bagaimana dengan aktor dan aktris cilik yang mereka punya ? Tentunya ada beberapa aktor dan aktris cilik yang sangat bagus dalam berakting pada suatu film. Siapa siapa sajakah mereka ? Inilah 10 Artis Cilik Pemeran Utama Terbaik Dalam Film Hollywood versi ane gans, meskipun ada beberapa yang sekarang sudah tidak cocok dikategorikan sebagai artis cilik lagi tapi mereka pernah berperan sangat baik dalam film film yang mereka bintangi ketika mereka masih kecil. Check this out 

1. Ty Simpkins as Dalton – Insidious

Ty Keegan Simpkins lahir 6 Agustus 2001 adalah aktor asal Amerika Serikat. Dia berperan sebagai Dalton dalam film Insidious. Dalam film ini dia diceritakan memiliki kemampuan untuk melepaskan jiwa ketika sedang tertidur atau istilahnya Astral Projection yang di Indonesia dikenal sebagai ilmu Meraga Sukma.

2. ChloĆ« Moretz as Hit Girl – Kick Ass

Chloƫ Grace Moretz lahir 10 Februari 1997 adalah aktris asal Amerika Serikat yang dikenal karena perannya sebagai Hit-Girl dalam film pahlawan super 2010 Kick-Ass. Dia juga bermain di The Amityville Horror, (500) Days Of Summer, Diary of a Wimpy Kid dan bermain sebagai Abby, seorang anak vampir, di Let Me In. Dalam film Kick Ass dia berperan sebagai tokoh super heroes kecil yang sangat sadis dan senang memainkan pisau sebagai salah satu senjatanya.

3. Kodi Smit-McPhee as Owen – Let Me In

Lahir di Australia 13 Juni 1996 Kodi telah mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang aktor, Andy McPhee, dan adiknya yang juga seorang aktris Sianoa Smit-McPhee. Dalam film Let Me In Kodi berperan sebagai Owen , seorang anak laki laki lemah yang menjadi korban bullying teman teman sebayanya. Dia kemudian bertemu dengan seorang anak perempuan misterius yang tinggal di sebelah rumahnya.

4. Dakota Fanning as Emily Callaway – Hide and Seek

Dakota Fanning lahir dengan nama Hannah Dakota Fanning lahir 23 Februari 1994 adalah aktris muda Hollywood yang dianggap genius dalam bidang akting. Dia adalah kakak dari Elle Fanning yang memiliki profesi serupa dengannya. Muncul secara cemerlang dan dikenal luas lewat aktingnya yang menawan di I Am Sam sebagai Lucy, anak dari seorang penderita keterbelakangan mental yang diperankan oleh Sean Penn pada tahun 2001. Sebagai artis cilik, ia muncul dalam film-film berlevel tinggi semacam Man on Fire, War of the Worlds, dan Charlotte’s Web. Dia berperan sangat cemerlang dalam film Hide and Seek sebagai Emily Callaway.

5. Asa Butterfield as Hugo Cabret – Hugo

Asa Maxwell Thornton F. Butterfield lahir di London, Inggris, 1 April 1997 adalah aktor dari Inggris. Dia juga diakui memiliki mata biru yang khas. Namanya mulai diperhitungkan dalam dunia perfilman Hollywood semenjak dia bermain dalam film Nanny McPhee. Film terakhirnya Hugo berhasil membuat namanya makin bersinar di kancah Hollywood.

6. Bailee Madison as Sally Hirst – Don’t Be Afraid of the Dark

Bailee Madison lahir di Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat, 15 Oktober 1999; umur 12 tahun) adalah aktris dari Amerika Serikat. Madison berperan sebagai May Belle Aarons dalam film Bridge to Terabithia (2007). Ia juga berperan sebagai Hannah Cottrell dalam film Saving Sarah Cain. Dia bermain sangat gemilang sebagai Sally Hirst, seorang anak perempuan kecil dengan rasa ingin tahu yang tinggi dalam film Don’t Be Afraid of the Dark.

7. Isabelle Fuhrman as Esther Coleman – Orphan

Isabelle Fuhrman lahir di Washington DC, Amerika Serikat, 25 Februari 1997 adalah aktris asal Amerika Serikat. Isabelle Fuhrman berperan sebagai Esther Coleman dalam film Orphan (2009). Dalam film ini dia berperan sebagai seorang wanita psycho yang berperawakan seperti seorang anak kecil.

8. Zachary Gordon as Greg Heffley – Diary of a Wimpy Kid

Zachary Gordon lahir 15 Februari 1998 adalah aktor cilik asal Amerika Serikat. Ia dikenal lewat film Diary of a Wimpy Kid. Karirnya dimulai sejak tahun 2006 dengan peran kecil pada film All of Us. Dalam Diary of a Wimpy Kid dia berperan sebagai seorang anak laki laki yang merasa dirinya hebat padahal dalam kenyataannya sering mengalami kesialan dan menjadi korban bullying teman teman sekolah juga kakak laki laki kandungnya sendiri.

9. Freddie Highmore as Charlie – Charlie and the Chocolate Factory

Alfred Thomas Highmore lahir 14 Februari 1992 lebih dikenal dengan nama Freddie Highmore adalah seorang aktor asal Inggris. Dia pernah bermain dalam beberapa film antara lain Finding Neverland, Charlie and the Chocolate Factory, August Rush, dan The Spiderwick Chronicles. Dia berperan sangat baik saat menjadi Charlie Bucket dalam film Charlie and the Chocolate Factory. Sejak saat itu namanya mulai diperhitungkan dalam dunia perfilman Hollywood.

10. Georgie Henley as Lucy Pevensie – The Chronicles of Narnia

Georgina “Georgie” Helen Henley lahir di Inggris, 9 Juli 1995 adalah seorang aktris yang berasal dari Inggris. Dia berperan sebagai Lucy Pevensie dalam serial film The Chronicles of Narnia.

Rabu, 11 Juli 2012

Hugo (2011) Review 

 

 














Martin Scorsese adalah salah seorang sutradara legendaris Hollywood yang masih aktif berkarya dan telah menghasilkan film film luar biasa seperti Taxi Driver, Ragging Bull, Goodfellas, hingga The Departed. Namun, tidak seperti Steven Spielberg yang sudah merambah ke hampir semua genre, Martin lebih memfokuskan diri di film film drama yang membahas sisi gelap manusia, gangster hingga film biografi. Oleh karena itulah, Hugo begitu menarik perhatian tahun 2011 lalu. Tidak hanya menjadi film keluarga pertama bagi Martin Scorsese, Hugo juga menjadi debut perdana-nya menggunakan kamera 3D dan sekaligus menjadi film termahal yang pernah dibuatnya dengan budget $170 million. Apakah Martin Scorsese kembali sanggup mempesona para penonton lewat debut ‘perdana’nya ini?
















Paris, 1930. Hugo Cabret (Asa Butterfield) adalah seorang anak yatim-piatu yang tinggal bersama pamannya, Claude (Ray Winstone), di sebuah stasiun kereta api di Paris. Ayahnya (Jude Law) meninggal secara mendadak dalam kebakaran museum dan hanya meninggalkan sebuah Automaton (robot berbentuk manusia) misterius yang memiliki lubang kunci berbentuk hati di punggungnya. Sebelum meninggal, ayahnya mengajak Hugo untuk memperbaiki automaton tersebut bersama - sama. Demi mengabulkan impian terakhir sang ayah, Hugo mencuri alat – alat mekanik milik Uncle Georges (Ben Kingsley), pemilik toko mainan di stasiun kereta api, guna memperbaiki automaton tersebut. Sayangnya, tidak butuh waktu lama bagi Uncle Georges untuk mengetahui bahwa Hugo telah mencuri barang – barangnya. Dengan ancaman akan diserahkan ke inspektur stasiun yang gemar memasukkan anak terlantar ke panti asuhan (Sacha Baron Cohen), Hugo akhirnya mengembalikan barang curiannya dan terpaksa menyerahkan notebook milik ayahnya yang berisi data analisisnya terhadap automaton.Peristiwa ini justru menyeretnya ke dalam sebuah petualangan besar menyingkap rahasia Automaton tersebut bersama cucu angkat Georges, Isabelle (Chloe Moretz).
















First of all, Hugo bukanlah sebuah film keluarga seperti yang orang - orang bayangkan. Yes, Hugo is still a family film, tetapi tidak berisi kisah petualangan-fantasi seru ala Harry Potter ataupun kisah petualangan inspiratif seperti Oliver Twist. Hugo adalah sebuah film keluarga mengenai awal mula the magic of cinema. Yeah, setelah sekian banyaknya film yang beredar, mungkin ini adalah film big budget pertama yang mengangkat sejarah perfilman. Berbicara mengenai sejarah dunia film, tentu akan sangat aneh apabila kita melupakan film bisu hitam putih yang baru saja berjaya di ajang Oscar tahun ini, The Artist. Secara kebetulan, kedua film ini seakan – akan bertukar posisi, di mana film Hollywood (Hugo) membahas cinema Perancis, sedangkan film Perancis mengangkat kisah berakhirnya era silent movie di Hollywood. Lucunya lagi, seting waktu-nya sama : Tahun 1930.


Hanya saja, Hugo menggunakan teknik yang berbeda dengan The Artist. Apabila The Artist dibuat dengan metode silent film (hitam putih, bisu) dan sedikit pencampuran gaya film modern, Hugo justru dibuat dengan teknologi perfilman paling muthakir saat ini yakni menggunakan camera 3D dan penerapan visual effects dahsyat. Tetapi, perlu dicatat bahwa pendekatan yang dilakukan Martin Scorsese terhadap Hugo sesuai dengan tema film ini sendiri, di mana pada masa – masa awal munculnya film, para penonton dibuat terpukau dengan sesuatu yang berbeda, magical dan orisinil (yakni sebuah film). Dan respon itulah yang diinginkan Martin Scorsese ketika para penonton menyaksikan film teranyarnya ini. Dengan menggunakan teknik cinematography yang hebat, kreatif dan orisinil, efek 3D dalam film ini berhasil tampil begitu dahsyat, elegan dan benar – benar mendukung visualisasi filmnya. (read more : Hugo – The 3D review). Selain itu, tatanan landscape, set tempat, dekorasi panggung, hingga desain kostumnya juga sukses dibuat dengan begitu baik oleh tim di belakang layar film ini, sehingga tidak heran apabila Hugo berhasil menyapu bersih semua kategori teknik (kecuali Costume Design) di ajang Oscar tahun ini.



Tidak hanya permainan visual-nya yang memukau, Hugo juga berhasil menyajikan aliran kisah yang bagus, seru dan sangat meaningful bagi para pecinta film. Yeah, garis besar kisah sejarah awal munculnya film disajikan dengan begitu mengasyikkan oleh Martin Scorsese lewat jalinan misteri automaton dan petualangan Hugo di Paris, tanpa harus mengkuliahi para penontonnya. Banyaknya cuplikan dari film film klasik yang legendaris juga memperjelas bahwa sebagian adegan dalam film Hugo dishoot dengan mengadaptasi gaya film klasik tersebut (seperti ketika Hugo bergelantungan di jarum jam raksasa). Tidak hanya itu, kita juga akan dibawa berkeliling melihat set film yang dibangun oleh salah satu tokoh film yang paling penting, Georges Melies; memahami passionnya yang begitu hebat terhadap film, dan teknik visual effects yang revolusioner pada jamannya. Semua event bersejarah tersebut disuguhkan Martin dengan tingkat kedetailan dan kemiripan yang sangat tinggi, tanpa harus mengkhianati atau melebihi versi aslinya. Dengan segala pencapaian yang luar biasa itu, tidak heran apabila banyak yang mengatakan bahwa Hugo adalah perwujudan rasa cinta Martin Scorsese terhadap dunia film, dan juga menjadi film yang paling special dan meaningful bagi pecinta film seperti saya.















Untuk departemen akting, jajaran cast yang ditunjuk Martin Scorsese juga tidak mengecewakan. Mulai dari Asa Butterfield yang berperan sebagai Hugo, Chloe Moretz, Sacha Baron Cohen, hingga Ben Kingsley yang memerankan Georges Mellies; semua tampil prima dan berhasil mendalami karakternya dengan baik. Kepolosan para karakter utamanya dan humor – humor segar yang akan membuat anak – anak tertawa, juga berhasil dipresentasikan dengan takaran yang pas oleh Martin, sehingga karakter dan humor tersebut justru menghangatkan hati, charming, dan membuat para penonton dewasa bernostalgia akan masa kanak – kanaknya; dibandingkan harus tampil bodoh / norak seperti yang kebanyakan ada di film anak – anak garapan Hollywood (Gulliver’s Travels, Alvin and the Chipmunks 3, dsb).

 















Overall, Hugo mungkin akan sedikit membosankan bagi anak – anak yang terlalu muda. Namun menurut saya, Martin Scorsese berhasil menyajikan sebuah tontonan keluarga yang luar biasa bagus, menyentuh, meaningful dan juga memperkenalkan the magic of cinema kepada para penonton lewat jalinan kisah fiksi petualangan yang seru, elegan dengan sajian visual yang stunning.

Dan bagi yang menyebut diri anda seorang cinephile, Hugo adalah sebuah film yang tidak bisa dilewatkan begitu saja di bioskop dan saya jamin, Hugo akan membuat anda semakin mencintai film.

Minggu, 24 Juni 2012

Film Rumah Tanpa Jendela (2011)

 taken from ImanSulaiman.com

RTJ01
Merindukan kehadiran film untuk anak-anak?
Kangen dengan film musikal?
Ingin menonton film bertema sosial namun ringan dan menyenangkan?
Penasaran dengan film tentang anak special need yang begitu menyentuh tanpa menggurui?
Nonton film sambil berderma? Kok bisa?
Aneka pertanyaan di atas ternyata mampu dijawab oleh kehadiran sebuah film yang berjudul Rumah Tanpa Jendela. Bersyukur saya dan teman-teman MataSinema diberi kesempatan untuk hadir dalam pemutaran perdana film ini Kamis lalu (03/02/2011) di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) Rasuna Said, Jakarta Selatan. Thanks to Mbak Asma Nadia yang begitu welcome kepada kami. Nggak cuma Mbak Asma Nadia, ternyata Mas Aditya Gumay selaku sutradara sekaligus penulis skenario dan Mas Adenin Adlan (produser dan penulis skenario) juga begitu ramah dan berkenan ngobrol-ngobrol dengan kami. Oh ya nggak lupa ada Mbak Genta Windi. Mbak yang satu ini sejak semula aktif ngetwit dengan kami. Dia ini juga nggak kalah ramah lho. Semua kru dan personal film ini begitu hangat dan bersahabat (cozy) .

Film ini berdurasi 100 menit, terasa pas untuk sebuah tontonan keluarga karena nggak terlalu lama dan juga tidak terlalu sebentar. Hari itu dilakukan 2 kali pemutara film dan Alhamdulillah kami kebagian menonton pada penayangan perdana pada sekitar pukul 13.00 WIB.

Hampir seluruh pendukung film ini hadir, seperti Dwi Tasya, Emir Mahira, Raffi Ahmad, Yuni Shara, Atie Kanser, Varissa Camelia, Billy Davidson, Ouzan Ruz dan Indra Bekti. Acara hari itu diakhiri denga press conference, karenanya tidak heran begitu banyak wartawan yang hadir.
Komentar positif pun bermunculan dari kalangan wartawan. Memang patut diakui film ini sangat berbeda. Selain seluruh keuntungan film ini didedikasikan bagi penderita autis kurang mampu di tanah air, film ini juga sarat dengan nilai-nilai positif dengan kemasan yang sangat menghibur.

CERITA

Alam pikir seorang anak terkadang sulit kita pahami karena kesederhanaannya. Rara (Dwi Tasya) adalah seorang anak yang kurang beruntung secara ekonomi dan ia memiliki sebuah cita-cita yang amat sangat sederhana yaitu memiliki jendela di rumahnya. Sederhana banget ya (thinking) .

Namun keinginan sederhana ini menjadi terlalu mewah bagi Rara karena dia, ayah (Raffi Ahmad), dan neneknya (Ingrid Wijanarko) hanyalah tinggal dalam sebuah rumah berdinding kayu yang cukup untuk tidur saja. Itu pun masih disertai dengan ancaman penggusuran yang bisa terjadi setiap saat.
Di lain pihak ada Aldo (Emir Mahira) seorang anak yang termasuk special needs karena mengidap autis ringan. Aldo hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan bahkan terbilang berlebih. Karena kondisinya yang memang khususl ini Aldo kerap kali dianggap sebagai hal yang patut disembunyikan memalukan oleh keluarganya, terutama kakak perempuannya (Maudy Ayunda).
Aldo dan Rara pun dipertemukan dalam sebuah kejadian yang membuat keduanya akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan yang tak mengenal kasta ekonomi ini berlangsung dengan begitu indahnya. Rara merasa begitu beruntung dapat melihat rumah indah berjendela banyak milik Aldo, demikian juga dengan Aldo yang merasa akhirnya ia bisa diterima apa adanya oleh Rara dan teman-temannya. Banyak pelajaran dan nilai yang dapat kita tangkap dalam penggambaran persahabatan keduanya tanpa terasa dipaksakan karena mengalir dalam cerita yang begitu natural dan nyaman dinikmati (scenic) .
Beberapa adegan mengharukan dapat kita jumpai di film ini. Walaupun pemain tidak melulu berurai airmata dalam adegan-adegannya namun saya sebagai penonton beberapa kali harus mengambil tissue untuk mengeringkan mata yang tiba-tiba basah (tears) .
Sebagai film musikal tentu saja banyak keceriaan yang dihadirkan dalam film ini melalui kehadiran lagu-lagu. Ini pun ditampilkan dengan apik dan cukup menarik (banana_cool) .

PEMAIN

Sejak awal kehadiran Emir Mahira dalam film ini begitu memukau saya. Dia begitu ciamik memerankan tokoh Aldo yang menderita autis. Gerak tubuh hingga gaya bicaranya begitu natural dan menyentuh. Emir tampak benar-benar mempersiapkan diri memerankan ini secara matang. Salut untuk Emir, moga menjadi bintang di masa depan ya (rock) .
Tokoh Rara yang menjadi benang merah cerita film ini juga diperankan secara apik oleh Dwi Tasya. Terlihat Tasya sangat memahami dan mendalami karakter Rara dengan sangat baik dan natural. Ini luar biasa bagi seorang anak pendatang baru di dunia film.
Maudy Ayunda dan Ouzan Ruz yang berperan sebagai kakak dan abang Aldo juga cukup baik dalam membawakan peran mereka. Nah nggak lupa salah satu tokoh senior perfilman Indonesia kita yaitu Atie Kanser juga main lho di sini. Berperan sebagai nenek Aldo beliau mampu membuat film ini begitu hidup dan enak dinikmat. Bunda Atie begitu sukses menunjukkan diri sebagai nenek yang begitu pengasih kepada cucunya, sekalipun Aldo memiliki kekurangan (worship) .
Yang membuat film ini cukup heboh sebenarnya adalah kehadiran pasangan Raffi Ahmad dan Yuni Shara. Awalnya terus terang saya pribadi sudah under estimate terhadap kehadiran 2 pemain ini. Namun syukurlah keduanya mampu tampil dalam film ini dengan cukup baik. Raffi cukup memikat dalam memerankan ayah Rara, walaupun secara penampilan ia sebenarnya kurang pas menjadi sosok miskin yang berprofesi sebagai penjual ikan hias, namun Raffi membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh mampu menghadirkan sang ayah dengan baik dalam film ini. Yuni yang hanya tampil dalam beberapa scene juga tidak terlalu mengecewakan, bahkan terbilang cukup baik memerankan diri sebagai bude (tante) Rara.
Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda asuhan mas Aditya Gumay sangat memperkuat nafas film ini. Tak dipungkiri mereka mampu menghidupkan atmosfer alami dalam film ini.

MUSIKALITAS
Sebagai film musikal Aditya Gumay tidak main-main dalam mempersiapkan film ini. Sederetan lagu ia siapkan untuk menghidupkan adegan-adegan dalam film ini. Lagu yang ditampilkan pun nyaman untuk dinikmati sekali pun baru pertama kali mendengar.
Namun sederetan lagu yang tampil kebanyakan dinyanyikan secara bersama. Coba jika ada lead vocalnya, pasti akan lebih menarik lagi hehehe. Teringat Sherina dalam Petualangan Sherinanya (goodluck)

GAMBAR

Tata gambar cukup nyaman dan enak untuk dinikmati. Namun masih ada beberapa sudut pengambilan gambar yang terasa kurang pas, semisal pada adegan bernyanyi ketika hujan, alangkah indahnya jika gambar lebih banyak diambil dari atas yang menunjukkan indahnya warna-warni payung.
Beberapa adegan indoor kesan sinetronnya masih ada. Hmm saya bingung mau ngomongnya tapi mungkin perlu sedikit kreatifitas sudut pengambilan gambar atau tata cahaya sehingga kesan sinetron tersebut bisa diminimalisir (goodluck) .

NONTON SAMBIL SEDEKAH?
Film ini memang terbilang unik karena ternyata tidak memiliki tujuan komersil. Sepenuhnya (100%) penghasilan film ini didedikasikan untuk membantu anak-anak autis (specil needs) yang kurang mampu. Direktur utama Dompet Dhuafa sepenuhnya mendukung film ini antara lain dalam hal promosi.
Walaupun bertujuan sosial jangan pernah meragukan kualitas film ini. Anda bisa saksikan sendiri film ini yang digarap secara begitu piawai oleh sutradara idealis bertangan dingin Aditya Gumay. Setidaknya kita tentu masih ingat dengan Film Emak Ingin Naik Haji garapan sutradara yang sama dan berhasil menyabet banyak penghargaan dalam festival film Bandung dan Festival Film Indonesia.
Lebih detail mengenai ini dapat dilihat di http://proposalfilmrtj.blogspot.com

DUET IDEALIS ASMA NADIA-ADITYA GUMAY

Film ini merupakan kali kedua kerjasama antara Asma Nadia dan Aditya Gumay. Sebelumnya Film Emak Ingin Naik Haji pun sedemikian memukau para pecinta film di tanah air. Tema sederhana dan sangat dekat  dengan keseharian kita merupakan salah satu keunggulan duet ini. Ketika kita menikmati karya mereka berdua seakan memang ada kita di sana, di antara para pemain dan hiruk pikuk cerita dalam film mereka. Inilah yang mungkin acapkali dilupakan sineas kita yang lain.
“Begitu banyak sutradara yang mampu untuk membuat film yang bagus, tapi hanya sedikit yang mampu membuat film bernilai. Dan diantara yang sedikit itu adalah Aditya Gumay”. Ujar Mba Asma Nadia yang begitu terkesan akan idealisme seorang Aditya Gumay.
“Film dan novel adalah dua hal yang berbeda. Dan Aditya Gumay mampu membawa ‘semangat’ yang ada dalam novel ke dalam sebuah film dengan begitu baik. Saya merasa sangat puas dengan hasil filmnya”. Mba Asma menambahkan.

STRONGLY RECOMMENDED TO WATCH
Jangan pernah takut dan berhenti bermimpi. Bukalah mata hati dan pikiranmu sebagaimana jendela yang terbuka. Bersyukur atas segala yang kita miliki. Persahabatan mampu melampaui batas-batas ekonomi dan bahkan cacat atau tidaknya seseorang. Itulah antara lain sedikit dari begitu banyak nilai-nilai yang tersaji dalam ramuan Film Rumah Tanpa jendela ini. Banyak bekal yang bisa dibawa pulang memenuhi rongga nurani kita yang cenderung kering akan kepedulian sosial.
Film ini begitu indah dan bermakna untuk kita lewatkan begitu saja. Saya meyakini dibalik niat mulia dalam pembuatan ini yang ditujukan untuk kegiatan sosial ada begitu banyak berkah yang akan terus mengalir khususnya bagi dunia perfilman Indonesia yang sangat haus akan nilai-nilai kebaikan. Semoga…

Jumat, 15 Juni 2012

10 Kota Paling Layak Huni di Dunia Tahun 2010

Akhirnya keluar juga hasil dari survey kota layak huni secara global oleh beberapa instansi seperti: Huffington Post dan the national ledger. kota layak huni ini didasarkan pada 5 kriteria penilaian baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 5 kriteria penilaian meliputi 1. ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat ( bangunan layak huni dan layak pakai, ketersediaan air bersih, listrik,dll) 2. ketersediaan fasilitas publik (taman, trotoar, rumah ibadah, dll) 3. ketersedian fasilitas pendukung sektor ekonomi, sosial, politik, dan budaya 4. ketersediaan ruang dan tempat berinteraksi dan berkembang 5. kenyamanan, keamanan, keindahan fisik, serta kemajuan pembangunan serta teknologi yang ramah lingkungan

1. Vancouver
2. Vienna
3. Melbourne
4. Toronto
5. Calgary
6. Helsinki
7. Sydney
8. Perth
9. Adelaide
10. Auckland

Selasa, 12 Juni 2012

5 Tahun Berturut-turut Vancouver Sandang Kota Ternyaman di Dunia


Status Vancouver, Kanada, sebagai kota ternyaman di dunia tidak tergoyahkan. Selama lima tahun berturut-turut, Vancouver menempati urutan teratas kota paling layak dihuni berdasarkan survei tahunan Economist Intelligence Unit.

Dalam survei yang dirilis Senin 21 Februari tersebut juga dijelaskan bahwa Harare, ibu kota negara Zimbabwe, merupakan kota terburuk. Kanada tidak hanya menempatkan Vancouver dalam daftar 10 kota ternyaman di dunia.Toronto dan Calgary pun membuntuti di peringkat keempat dan kelima.

Kota-kota ini memenuhi lima kategori secara luas, yakni stabilitas, perawatan kesehatan,budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Setiap faktor dinilai dengan peringkat diterima, lumayan, tidak nyaman, tidak diinginkan, atau tidak bisa ditoleransi. Vancouver mendapatkan nilai total 98 dari nilai 100 dalam survei ini.

“Vancouver tetap berada di puncak. Posisi ini kian kokoh berkat keberhasilan menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin 2010 dan Paralympics yang memberikan dorongan untuk infrastruktur, budaya, dan lingkungan,” ujar penulis survei dalam ringkasan laporan.

“Hanya kejahatan kecil yang menghadirkan kesulitan untuk Vancouver.Kekerasan dilaporkan menjadi tren teratas di kota ini, tetapi angka harus tetap diletakkan pada konteks penilaian,” tambah laporan tersebut.

Editor majalah The Economist Jon Copestake menambahkan, ”Kota yang tidak terlalu besar di negara maju, dengan jumlah penduduk lebih sedikit, mendapat skor yang lebih tinggi.” Menurut dia,kota yang didiami 583.296 jiwa ini dilengkapi layanan infrastruktur yang bagus, tingkat kejahatan yang rendah, tanpa macet, dan lebih berbudaya.

Survei memperlihatkan tingkat pembunuhan di Vancouver pada 2009 adalah 2,6 per 100.000 orang.Angka ini sebenarnya lebih tinggi dibandingkan dari rata-rata Kanada yang 1,8 per 100.000,tetapi lebih kecil dari rata-rata 5,4 pembunuhan di Amerika Serikat (AS). Profesor dari University of British Columbia,Kanada,Patrick Condon tidak terkejut mengetahui tiga kota di Kanada masuk dalam daftar 10 kota ternyaman.“Saya menilai faktor perawatan kesehatan memberikan pengaruh yang besar (dalam penilaian),”ujar Condon. Posisi Vancouver tidak berubah sejak 2007.Kota lain yang baru masuk dalam 10 besar kota ternyaman adalah Auckland,Selandia Baru.

Kota-kota di AS tak tercatat dalam 20 besar.Pittsburgh yang dinilai paling nyaman di AS hanya menempati posisi ke-29,sementara Los Angeles di urutan ke-44. London naik peringkat dengan menghuni posisi ke-53, sedangkan Paris berada di urutan ke-16. Untuk Asia, kota ternyaman adalah Osaka, Jepang, yang menduduki peringkat ke-12 diikuti Tokyo di posisi ke-18. Hong Kong dan Beijing,China,masing-masing berada di posisi ke-31 dan ke-72. Survei ini menilai Harare sebagai tempat paling tidak layak dihuni dengan peringkat 37,5%.Harare menggeser Dhaka, ibu kota Bangladesh, yang sebelumnya menempati posisi tersebut.

Economist Intelligence Unit melakukan survei berdasarkan 30 faktor, antara lain kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan keamanan pribadi. Negara-negara Afrika dan Asia berada di daftar terbawah dari peringkat survei.

Sabtu, 09 Juni 2012


Belajar di Kanada

 

Sistem pendidikan Kanada mencakup baik sekolah yang dibiayai oleh negara maupun sekolah swasta, mulai dari taman kanak-kanak sampai pra-universitas, Pendidikan adalah tanggung jawab provinsi dibawah undang-undang Kanada, yang berarti ada perbedaan nyata dalam sistem-sistem pendidikan di Provinsi yang berlainan, Tetapi tarafnya diseluruh negara secara keseluruhan tinggi.

Warga negara Kanada sangat mementingkan pendidikan dan menuntut adanya sekolah-sekolah berkualitas nomor satu. Gelar dari universitas Kanada diakui di seluruh dunia dan sebagai hasilnya mahasiswa asing yang lulus dari universitas-universitas Kanada bisa mendapatkan karir-karir sukses dan mapan.
Terpilih sebagai negara nomor satu di dunia
Menurut PBB dan Unit Inteligen Ekonomi (Economist Intelligence Unit), Kanada dinyatakan sebagai salah satu dari 10 tempat terbaik di dunia untuk tinggal sejak tahun 1994. Menurut survey PBB, Kanada secara khusus mendapatkan nilai tinggi untuk akses pendidikan, harapan hidup yang lebih tinggi (karena sistem Universal Health Care); dan tingkat kejahatan dan kekerasan yang rendah. Sebagai tambahan, kota-kota terbesar Kanada seperti Vancouver, Toronto dan Montreal telah diakui sebagai kota-kota kelas dunia untuk hidup dan bekerja, kebersihan dan keamanan dan untuk aktivitas-aktivitas budaya dan gaya hidupnya yang menarik.

Biaya Pendidikan Kanada Sangat Kompetitif
Belajar di kanada tidaklah gratis, tetapi terjangkau. Biaya rata-rata untuk mahasiswa asing untuk satu tahun ajaran (8 bulan) dalam Program Seni dan Sains adalah C$4000. Tetapi, berbeda-beda dari institusi satu ke yang lainnya.



Tempat yang aman untuk belajar
Kanada terkenal dengan masyarakat yang aman, adil dan damai. Tingkat kejahatan di Kanada terus menurun secara stabil sejak tahun 1990. Pada tahun 1997, laporan polisi tentang tingkat kejahatan di Kanada menurun 5 persen selama tahun keenam secara berturut-turut. Kejahatan dengan kekerasan turun untuk tahun kelima secara berturut-turut pada tahun 1997 dan tingkat pembunuhan di Kanada sekarang terhitung kurang dari satu persen dari seluruh insiden kekerasan yang dilaporkan. Tidak seperti Amerika Serikat, tetangga Kanada di selatan, senjata api di kontrol dengan ketat dan umumnya tidak diperbolehkan di Kanada.

Mutu Pendidikan yang Tinggi
Institusi pendidikan di Kanada tidak diberi rangking resmi, karena semua institusi pendidikan di Kanada menawarkan program dengan kualitas tinggi. Ketika anda memilih sekolah di Kanada, pertimbangkan tipe, besarnya, dan lokasi institusi tersebut. Jika anda tertarik pada bidang studi khusus, carilah informasi mengenai sekolah mana yang lebih banyak menawarkan disiplin ilmu tersebut

Bagaimana cara kita bisa memiliki peluang ke Kanada?
Dengan adanya CESI (Canadian Education Services International). CESI adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh CEOL, sebuah perusahaan di Provinsi Ontario, Kanada. Dengan kantor pusat perusahaan yang baru dibuka di Jakarta, CESI bermaksud untuk agresif memperkenalkan yang terbaik dari Kanada dalam hal pendidikan, program lembaga dan kurikulum sebagai pilihan utama bagi warga Indonesia mencari peluang dalam studi yang lebih tinggi.

CEO Ltd. dan CESI bertujuan untuk menjembatani kebutuhan dan peluang antara Kanada dan Indonesia dalam bidang pendidikan. Mencakup akademi / universitas pencarian dan pelayanan penempatan bagi warga Indonesia yang ingin mengejar pendidikan menengah serta program pasca sarjana di Kanada. Kami juga membawa kurikulum yang digunakan di Kanada dan materi pelatihan untuk institusi lokal, baik di sektor swasta ataupun pemerintah.

Sabtu, 17 Maret 2012

Ma Xiuxian, Inilah Murid SD Tertua di Dunia….

 

Ada sebuah kisah di dataran China, tepatnya di Kota Jinan, Provinsi Shandong. Seorang nenek berusia 102 tahun bertekad menuntut ilmunya dengan menjadi murid salah satu sekolah dasar di daerah setempat.

Dialah Ma Xiuxian, sosok nenek tersebut. Sosok yang tidak berlebihan jika disebut sebagai murid SD tertua di dunia.

Luar biasa, memang. Di usia yang tidak semua orang bisa mencapainya itu, Ma masih memiliki motivasi dan keinginan untuk bisa belajar selayaknya seorang anak kecil.

Melihat betapa bersemangatnya Ma untuk menghabiskan sisa usianya yang sudah sangat senja dan hanya tersisa hitungan hari demi hari tersebut, tidakkah membuat mata hati kita tergerak untuk lebih bersemangat menuntut ilmu, sampai kapan pun dan dalam kondisi seperti apa pun?

Kisah tentang Ma yang dikutip dari Kompasiana ini cukup memberikan inspirasi bahwa betapa sangat berharganya ilmu, bahkan di sisa hidup yang sudah senja sekalipun.